bola ladang kehidupan bagi mereka

Posted: 29 September 2010 in bola dan uang

Oleh: Nurmal Idrus (Juru Bicara PSM Makassar)

Gagasan Arifin Panigoro untuk menggelar Indonesia Premier League (IPL) menggelitik insan persepakbolaan tanah air. Apalagi, dia menawarkan konsep yang lebih profesional dari apa yang selama ini tersaji lewat Indonesia Super League (ISL).

Apakah itu akan terwujud atau hanya sebatas konsep, patut ditunggu. Yang pasti, dengan pengetahuan dan keseriusan Arifin Panigoro, bukan sebuah kemustahilan era sepak bola Indonesia yang lebih profesional bisa diwujudkan melalui tangan dinginnya.


Sebagai olahraga terpopuler, sepak bola kini telah menjelma menjadi industri yang menggiurkan. Kompetisi paling terkenal sejagat, English Primer Leaque di Inggris, tahun lalu mencatat jumlah peredaran uang hingga melewati angka Rp 100 triliun.

Jumlah itu merupakan akumulasi dari biaya kompetisi selama setahun, belanja pemain 20 tim peserta, berbagai iklan dan dari hak siar yang diterima klub. Manchester United masih memegang rekor pendapatan terbesar dengan merengkuh sekitar Rp 2 triliun pendapatan bersih.

Di benua biru itu, nyaris semua negara menggelar kompetisinya secara rutin dan mendatangkan keuntungan berlipat bagi klub pesertanya. Setelah Inggris, ada Liga Serie A Italia dan Bundesliga di Jerman yang juga mendatangkan keuntungan berlipat-lipat bagi timnya.

Hak siar televisi, iklan dan sistem transfer pemain menjadi tiga pendapatan utama klub-klub kaya seperti Manchester United, Chelsea, Real Madrid dan Inter Milan untuk menambah pundi-pundi uang mereka.

Di Asia yang belakangan mengekor, juga mulai tumbuh industri sepak bola. Virus industri bola itu tertularkan lewat Liga Jepang atau yang populer dengan sebutan J League. Musim 2009-2010 lalu, J League mampu menghimpun perputaran uang dengan total tak kurang dari Rp 20 triliun. Tidak jauh berbeda dengan Liga Korea dan Liga China.

Dalam lingkup lebih kecil di Asia Tenggara, Liga Sepak Bola Malaysia juga sudah bisa menjadi contoh dengan kemandirian klub-klub mereka.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah untuk dijawab.
Sudah menjadi rahasia umum, keinginan PSSI sebagai otoritas sepak bola di Indonesia untuk menjadikan sepak bola sebagai olahraga profesional dengan menjadikannya industri baru.

PSSI sudah mengawalinya dengan membentuk Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI). Badan yang berbentuk perseroan terbatas ini menjadi operator dan dipercaya penuh menggelar Liga Indonesia.

Setelah melakukan uji coba dengan Liga Indonesia selama beberapa musim, BLI kemudian mencoba memasuki dunia profesional penuh dengan menggelar Indonesia Super League (ISL). Tahun ini, ISL sudah memasuki tahun ketiga. Akhir bulan ini, BLI dijadwalkan akan memulai ISL III.

Tapi, cita-cita menjadikan sepak bola Indonesia sebagai sebuah industri baru rupanya masih jauh panggang dari api. Berbeda dengan klub-klub lain yang mengikuti liga-liga di dunia, peserta ISL malah harus menanggung kerugian yang teramat besar. Makanya, bukan sebuah berita menarik ketika di akhir musim banyak pelatih atau pemain yang menggugat mantan klubnya karena sisa gaji mereka yang tak dibayar.

Arema Malang, klub juara ISL II yang diagung-agungkan BLI sebagai proto type pengelolaan profesional sepak bola Indonesia, ternyata semaput di akhir musim. Pasca meraih gelar ISL II, klub ini mesti berdarah-darah karena tuntutan pembayaran gaji pemain mereka yang telat. Padahal, Arema menjadi satu-satunya klub di ISL yang mampu mendatangkan keuntungan ketika mereka menggelar pertandingan. Arema pula menjadi satu-satunya tim di ISL yang terbebas dari pasokan dana APBD.

PSM Makassar termasuk satu dari sekian banyak klub di ISL yang terbilang kesulitan membangun profesionalisme timnya. Sulitnya mendapat sponsor, pengelolaan tim yang belum maksimal, infrastrukur stadion yang tak layak serta kesadaran masyarakat untuk membantu pendanaan tim melalui kepatuhan mereka membayar tiket, menjadi alasan mengapa tim berjuluk Pasukan Ramang ini saban tahun selalu menghadapi kendala kesulitan pendanaan.

Sejak ISL digelar, PSM maksimal hanya mendapatkan pasokan tak lebih dari Rp 10 miliar dari APBD Kota Makassar untuk mengikuti kompetisi. Padahal setiap musim, tim ini membutuhkan tak kurang dari Rp 20 miliar. Kekurangan Rp 10 miliar ditambal oleh manajemen yang mencari sponsor ke sana-ke mari.

Pola bisnis kompetisi yang dikembangkan BLI memang membuat tim ISL kesulitan untuk tidak menetek terus-menerus dari APBD. PSM misalnya, musim lalu hanya mendapatkan kurang dari Rp 100 juta dari BLI sebagai subsidi setelah dipotong berbagai tagihan hukuman.

Ini terjadi karena BLI menguasai sepenuhnya hak mendapatkan sponsor utama dan juga kompensasi hak siar. Hal inilah yang membuat klub-klub menjadi sulit berkembang dan sulit melepaskan diri dari belitan utang. Sebab, sponsor utama dan hak siar adalah dua segmen pendapatan yang bisa menjadi andalan klub sepak bola.

Maka, sesungguhnya wajar jika muncul gagasan bernama Indonesian Primer League (IPL) dan disambut antusias oleh banyak klub. IPL yang membawa konsep pembalikan dari konsep yang dijalankan selama ini oleh BLI, jelas membuat banyak klub di negeri ini tergoda. Mereka menjanjikan kepemilikan saham kompetisi berupa sponsor dan hak siar televisi yang 100 persen menjadi milik klub.

Iming-iming itu masih ditambah dengan konsep fairness kompetisi, di mana mereka akan mendatangkan wasit-wasit asing untuk awal-awal kompetisi. Kompetisi yang fair dan bersih memang menjadi masalah pelik di sepak bola Indonesia yang tak pernah usai dibicarakan dengan banyaknya keanehan dalam banyak hasil pertandingan.

IPL menerapkan konsep EPL di Inggris yang membuat klub-klubnya bisa meraup keuntungan maksimal. Ini tentu berbeda dengan konsep BLI di ISL yang pola kepemilikan saham klub sepenuhnya bertumpu di PSSI. Konsep PSSI dan BLI itu diyakini akan membuat klub tak akan bisa meninggalkan belitan utang dan tak mungkin meraup keuntungan.

Sebenarnya, BLI punya peluang untuk membangun profesionalisme sepak bola negeri ini menjadi lebih baik. BLI punya modal berupa penguasaan mereka terhadap sepak bola Indonesia. Mereka juga punya modal berupa loyalitas klub peserta ISL. PSM misalnya, meski menyatakan tertarik dengan ide IPL tetapi masih mendahulukan dan memberi prioritas ikut kompetisi ISL yang dihelat BLI.

Ini terjadi karena PSM melihat ada peluang yang bisa menjadikan sepak bola Indonesia lebih baik di bawah BLI. Tentu saja, jika PSSI lewat BLI mau mengubah konsep pengelolaan sepak bola yang mereka terapkan selama ini. BLI misalnya bisa melakukannya dengan memberikan injeksi berupa bantuan pendampingan terhadap sponsor yang akan masuk ke suatu klub.

BLI juga perlu memperjelas pembagian dana sponsor utama yang tahun ini kabarnya mencapai Rp 40 miliar dari PT Djarum. BLI juga harus memperjelas pembagian kue hak siar. Tanpa keinginan untuk berubah dan masih tetap berkeras dengan keinginan mempertahankan konsep yang ada sekarang, maka bukan hal mustahil loyalitas klub yang sebenarnya dimiliki oleh BLI akan goyah sedikit demi sedikit.

Siapa yang tak goyah ketika kemudian ada pihak yang datang menawarkan dana segar dan menjanjikan kompetisi yang lebih sehat dan menguntungkan. PSM misalnya, sudah amat sungkan kepada warga Makssar yang saban tahun uang pajak mereka dipergunakan untuk menggaji pemain yang besar itu.

Sudah saatnya PSM melepaskan diri dari cap sebagai tim “paccapu doi” (penghabis uang) yang selama ini selalu didengungkan.

Indonesia sebenarnya punya potensi yang besar untuk membuat sebuah kompetisi yang besar bahkan melebihi apa yang dipertontonkan oleh negara-negara di benua Eropa. Itu bisa terjadi karena Indonesia punya potensi berupa jumlah penonton yang sangat besar. Jika itu dikelola dengan baik, sesungguhnya bisa menjadi ladang industri baru yang bisa mendatangkan keuntungan luar biasa.

Pada akhirnya, semua akan terpulang pada PSSI sebagai otoritas sepak bola tertinggi di negeri ini. Tanpa keinginan mereka untuk berubah dan menjalankan kompetisi yang lebih berimbang, fair dan mendatangkan keuntungan bagi klub peserta, maka selama itu pula sepak bola Indonesia akan terpuruk.

http://metronews.fajar.co.id/read/105352/19/sepak-bola-profesional

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s