Imbas Revolosi Bima Sakti

Posted: 30 September 2010 in bola dan uang

Melambungnya harga kontrak pemain dimulai ketika memasuki Ligina VII tahun 2002. Saat itu ditandai dengan pindahnya Bima Sakti dari PSM Makasar ke PSPS Pekanbaru dengan bandrol Rp 500 juta ditambah gaji Rp 25 juta per bulan. Bima saat itu dikenal sebagai pemain termahal karena rata-rata pemain nasional masih dikontrak dalam medium Rp 100 juta hingga Rp 150 juta per musim.

Karena begitu luar biasanya, momen tersebut dinilai sebagai “Revolosi Bima Sakti” untuk menandai mulai melambungnya nilai kontrak pemain Indonesia di pentas Liga Indonesia. Dan itu terbukti, memasuki Ligina VIII tahun 2003, harga kontrak pemain mulai melambung tinggi. Para pemain timnas rata-rata sudah menaikkan harga kontraknya di atas Rp 200 juta per musim.

”Sejak revolosi itu, harga pemain menjadi sangat mahal. Apalagi stok pemain lokal yang berkualitas sangat minim, sehingga mereka yang berkualitas menjadi rebutan dan incaran banyak klub,” kata pengamat sepak bola nasional yang juga mantan pemain timnas di era 1980-an, Ricky Yacobi.

Ricky menilai pada dasarnya naiknya harga kontrak pemain itu seiring dengan semakin rendahnya nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika. Di eranya tahun 1980, nilai kontrak pemain paling tinggi mencapai Rp 10 juta per musim dengan gaji Rp 1 juta per bulan. Pemain yang mendapatkan kontrak sebesar itu sudah sangat mahal dan sebagai perbandingan kurs dolar saat itu masih sekitar Rp 1.000.

Mahalnya kontrak pemain saat ini juga dipicu karena ambisi klub untuk memiliki pemain yang berkualitas tetapi mereka tidak mau melakukan pembinaan pemain sendiri. Mereka maunya membajak pemain berkualitas milik klub lain. ”Karena merasa banyak klub yang membutuhkan, akhirnya pemain bisa bargaining jual mahal dan mematok harga yang tinggi,” katanya.

Menanggapi usulan beberapa klub agar PSSI membuat ketentuan yang mengatur besarnya nilai kontrak pemain, Ricky menolaknya. Alasannya, meski PSSI nantinya membuat aturan mengenai besarnya kontrak, tetapi realitasnya para pengelola klub berloma-lomba memburu pemain yang berkualitas, maka secara otomatis harga pemain itu juga akan mahal dengan sendirinya. Ini karena akan kembali ke teori pasar, dimana peminatnya semakin banyak sementara stok pemain berkualitas semakin sedikit, maka harga pemain bintang akan semakin mahal.

”Kuncinya, setiap klub harus melakukan pembinaan pemain dan menghasilkan pemain berkualitas sendiri,” idenya.

http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Sport&id=27519

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s