Pengelola Sepakbola jangan Bermental Sumbangan

Posted: 30 September 2010 in bola dan uang

Ir Mudjiono Moedjito MBA

Di pentas sepakbola tanah air, semua mata dari berbagai penjuru kini pastinya tertuju ke Malang, khususnya pada tim Arema Indonesia. Betapa, tim yang memulai Liga Super musim ini dengan tertatih; persiapan mepet, dana cekak, dan skuad ‘kelas’ dua, akhirnya mampu tampil sebagai juara. Padahal tidak sedikit tim lain yang lebih bergelimang dana dan skuad yang bertebaran pemain bintang nan mahal.
Rupanya, kunci sukses Arema Indonesia musim ini, cukup sederhana; kekompakan. Namun dengan penerjemahan yang benar dalam konteks pengelolaan sepakbola, kekompakan inilah yang membuat permainan tim menjadi atraktif. Kekompakan pula yang membuat Arema Indonesia mampu semakin mandiri dalam pendanaan, bahkan berpotensi besar untuk menjadi milik masyarakat luas lewat langkah go public.

Berikut penuturan Ir Mudjiono Moedjito MBA, Sekretaris Yayasan Arema Indonesia yang juga ditunjuk sebagai manajer tim, kepada Mas Bukhin dan fotografer Arif Yudi Susanto dari KOAN PENDIDIKAN, saat ditemui dikediamannya.

Dalam satu kata, apa yang menjadi kunci dari keberhasilan Arema Indonesia meraih juara Liga Super musim ini?
Kehendak; keberhasilan kami pastinya kehendak Allah SWT, sebagai manusia kami hanya berusaha saja. Namun lepas dari itu, ada kekompakan, dalam hal apapun. Pelatih dan pemain bukanlah anak buah bagi direksi, manajer, atau ofisial tim. Kita semua adalah mitra kerja, maka semua keputusan penting dan strategis harus dibicarakan bersama. Bahkan sampai detail kecil-kecil pun, kita bicarakan bareng. Buah dari kekompakan seperti ini adalah adanya semangat kebersamaan, baik saat merencanakan maupun dalam menjalankannya.

Lalu bagaimana dengan faktor pelatih yang juga disebut-sebut memiliki peran besar dalam keberhasilan Arema Indonesia musim ini?

Kehadiran Robert Rene Albert sejatinya melengkapi kekompakan itu sebab dia sangat perfeksionis. Pelatih kami punya kemampuan sebagai pemersatu, pengendali, motivator, dan tentunya kemampuan atas sepakbola yang amat bagus. Pelatih kami tidak saja hadir sebagai pemimpin yang memiliki kemampuan pengendali tapi juga tampil sebagai seorang bapak.

Dan apakah kekompakan ini mampu diterjemahkan dengan baik di tingkat pemain?
Sangat, pemain kami sangat kompak. Tidak pernah ada pemain yang merasa dirinya sebagai sosok penting apalagi pemain bintang. Njanka (Pierre Njanka Beyaka –red) misalnya, dia level kompetisinya sudah Piala Dunia namun saat bergabung di Arema Indonesia, dia tidak sombong malah bisa mendidik. Lihat juga Along (Mohammed Noh Alam Syah bin Kamarezamen –red) atau (Muhammad) Ridhuan. Saya ingat betul saat pertama datang dan ikut latihan, Along hanya lihat-lihat saja. Lalu dia teriak; “Hei kamu, pusing, pusing (berputar -red)”. Rupanya dia tidak sungkan-sungkan untuk ikut mengarahkan pemain lain.

Lebih khusus soal pemain, dalam pandangan Anda, apa yang membuat mereka bisa sangat kompak?
Terus terang saya sedih waktu ada yang bilang bahwa pemain kami itu ‘kelas’ dua. Saya katakan; pemain kami itu kelas satu hanya banyak orang saja yang belum tahu karena pemain kami memang muda-muda. Waktu kami diberi tanggung jawab menangani Arema, kami hanya punya waktu kurang dari dua bulan sebelum kompetisi. Kami kehabisan pemain senior maka kami maksimalkan pemain-pemain bagus yang ada di level yunior. Tinggal, kami butuh pemain yang mampu membuilding mereka dan kami bersyukur mendapat lima pemain asing senior. Mereka terbukti tidak saja mampu memimpin namun punya skill yang bagus. Kombinasi ini yang menarik; skill bagus, kompak, dan stamina prima (karena rata-rata masih muda -red), rupanya sangat cocok dan menguntungkan melihat jadwal kompetisi yang padat.

Bisa sedikit berbagi, bagaimana gambaran kebersamaan dalam tim ini?

Kami semua sangat dekat, kami saling berbagi perhatian, bahkan makanpun kami kerap bersama. Pada Along misalnya, saat temperamennya naik, saya selalu ingatkan; “Kamu itu anak saya”, kalau sudah begitu dia agak tenang. Tapi ya gimana lagi, temperamental seperti itu memang karakter aslinya. Jangan lupa lho, dia juga pemegang sabuk Tae Kwon Do. Bahkan yang terakhir, untuk urusan kebersamaan ini, Njanka sampai berani melawan manajemen dan coach nya.

Dalam urusan apa itu?

Waktu kami juara dan ada hadiah uang, setelah dipotong untuk coach sesuai kontrak, manajemen kan memutuskan agar ada rapor setiap pemain. Ini salah satunya untuk menentukan besaran bagian hadiah setiap pemain. Rupanya Njanka tidak setuju. Dia bilang dan ajak semua teman-temannya agar sisa hadiah itu dibagi rata; ngga peduli untuk pemain yang selalu main, pemain yang jarang main, pemain cadangan, bahkan sampai pemain yang tidak main pun, bagiannya harus rata. Dan semua pemain kami sepakat. Inilah yang saya bilang bahwa kami semua itu memang dekat, kompak, dan sudah tumbuh semangat kebersamaan.

Keberhasilan Arema Indonesia juga menjadi simbol keberhasilan pengelolaan sebuah tim sepakbola, menurut Anda?
Bagi saya, semua tim sepakbola di Indonesia punya potensi untuk besar dan menjadi juara. Syarat utamanya, ambil manajer atau pengelola yang memiliki visi bisnis,  bukannya pengelola yang bermental sumbangan. Ini penting sebab berpengaruh pada jalannya pengelolaan sebuah tim. Kalau tim sudah mendapatkan sumbangan dana besar dan melimpah, pengelolahnya tidak mau berfikir bisnis. Dia hanya akan memikirkan cara untuk menang.

Apa ini berarti bahwa tim-tim yang selama ini didanai APBD pun bisa mandiri seperti Arema Indonesia?

Bisa, hanya tinggal butuh keberanian dari pemerintah agar regulasi tentang pembatasan dana APBD itu segera dijalankan. Dampaknya akan kelihatan, setiap pengelola tim akan dipaksa berfikir bisnis. Sebab kalau tidak, maka timnya akan mati. Pilihannya menurut saya tinggal itu; paksakan. Kalau kita jeli dan memiliki visi bisnis, pada masa mendatang itu lebih banyak peluang dan potensi yang bisa dijadikan sebagai sumber pendanaan secara profesional.

Belajar dari pengelolaan Arema Indonesia, bagaimana sampai mampu mandiri dalam hal pendanaan ini?
Arema punya potensi besar yang itu bisa dicreate menjadi sumber pendanaan. Potensi besar itu, salah satunya adalah Aremania, suporter yang tidak saja kreatif dan atraktif, namun juga loyal. Dengan pengelolaan tim yang baik dan bisa tampil memenuhi harapan publik, maka dengan sendirinya suporter menaruh respek. Ini bisa dilihat dari setiap pertandingan kandang Arema Indonesia yang selalu dipenuhi Aremania. Dari sini saja, tiket pertandingan sudah menjadi sumber pendanaan sendiri. Belum lagi kalau kita terus menang, pihak televisi tidak ragu untuk menyiarkan secara langsung. Ini akan berdampak pada sumber dana dari pembagian hak siar dan tentu memancing sponsor atau pihak ketiga.

Seberapa besar potensi yang dimiliki Arema Indonesia ini akan bisa dimaksimalkan?

Saya berani katakan, dengan kondisi pengelolaan yang tampak pada satu musim ini, dalam dua atau tiga tahun ke depan, kita bisa memiliki stadion sendiri. Taruh kata, setiap pertandingan kandang kita memiliki sumber pendanaan Rp 1 miliar, ini sudah satu jumlah yang cukup untuk menggaet dana dari pihak ketiga melalui go public.

Go Public memang sudah lama menjadi wacana dan rencana pengembangan Arema Indonesia. Sudah sejauh mana progresnya?

Tinggal tunggu waktu saja. Saya sudah mengonsultasikan rencana ini dengan satu konsultan di Singapura dan desainnya sudah jadi. Kami akan lempar 20 persen saja saham kepemilikan Arema Indonesia, tidak lebih. Asumsinya, pada tahun-tahun berikutnya, jumlah ini akan bisa makin terkurangi dan Arema Indonesia tetap menjadi milik sepenuhnya dari Yayasan Arema Indonesia.

Oke, lalu bagaimana dengan tim Arema Indonesia pada musim depan?

Insya Allah tim ini akan dipertahankan. Diharapkan dengan masa berkumpul satu tahun ini bisa lebih menjaga kekompakan pada musim depan. Kalaupun dibutuhkan perubahan dan pembenahan, ya paling satu atau dua saja.

Terakhir, Anda juga pernah membawa Persema U-18 meraih Piala Suratin. Sebenarnya seberapa besar kecintaan Anda pada sepakbola?
Kami satu keluarga itu memang punya kecintaan pada sepakbola. Waktu laga terakhir lawan Persija Jakarta lalu, kami sekeluarga datang dan nonton bersama. Kalau ditanya kecintaan saya pada sepakbola; saat pacaran dengan istri saya, waktu itu kita sama-sama kuliah di ITS Surabaya, pacarannya tidak nonton bioskop, tapi nonton sepakbola.

http://www.koranpendidikan.com/artikel/5231/pengelola-sepakbola-jangan-bermental-sumbangan.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s